Assalamu'alaykum ukhti shalihat..
Ketika pertama kali mengetik kata "Hijrah" di kolom judul, otak ini langsung berhenti pada sebuah peristiwa pada zaman dahulu.
Iya, peristiwa pindahnya Rasulullah Shallallaahu 'alayihi wa sallam dari Mekkah ke Yastrib atau yang sekarang disebut Madinah.
Dulu, pemahaman saya tentang hijrah hanya sebatas sebuah perpindahan. Move on lah katakan.
Tapi semakin kesini, saya semakin tahu bahwa hijrah itu luas sekali cakupannya.
Iya, tak hanya sebatas perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, tapi juga dari satu keadaan/kondisi ke keadaan lain.
Tentunya hijrah ini mengandung makna yang positif.
Kalo perpindahannya malah membuat seseorang lebih buruk, bukan hijrah namanya.
Ketika ada yang bertanya bagaimana perjalanan hijrah saya? Saya perlu mengulik lebih dalam lagi. Karena rasanya setiap hal yang saya lakukan belum bisa dikatakan hijrah sepenuhnya.
Tapi baiklah, saya akan mencoba sedikit berbagi pengalaman saya.
Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua.
Awal hijrah saya dimulai dari Ramadhan sekitar 4tahun yang lalu, saya lupa tanggal tepatnya.
Hari itu saya memutuskan untuk memulai berhijab.
Hari itu saya mengakhiri pergulatan batin saya. Iya, setelah sekian lama saya bergulat dengan hati dan perasaan, saya membunuh semua keraguan saya, dan dengan khimar dan pakaian panjang yang seadanya saya memutuskan untuk berhijab.
Diawal keputusan saya tersebut, saya sedikit bahagia karena dihari yang sama sahabat terdekat saya juga memutuskan untuk berhijab. Saya jadi punya kekuatan untuk memulai hari itu. Beberapa hari sebelumnya saya terebih dulu izin dengan Aba. Alhamdulillah beliau merespon dengan baik.
Mama memberi modal 100 ribu untuk saya membeli beberapa khimar.
Bayangkan 100 ribu hanya dapat berapa?
Hari itu, dengan sebuah khimar yang seadanya (hanya menutup dada) saya datang ke sekolah.
Bisa dibayangkan bagaimana reaksi teman-teman saya saat itu. Dari awal masuk gerbang hingga ke kelas saya menemukan berbagai macam ekspresi dan tatapan mata. Ada yang merespon dengan baik, ada pula yang memandangi saya dengan tatapan sinis.
Saya hanya bisa menggenggam tangan sahabat saya dengan erat hari itu. Kami sama-sama saling menguatkan. Alhamdulillah, banyak support dan respon yang baik dari teman dan guru-guru saya. Do'a pertama saya hari itu adalah semoga Allah mengistiqomahkan saya dan sahabat saya untuk berhijab.
saya akui dari awal saya berhijab berhijab hingga beberapa tahun kemudian, saya masih berhijab seadanya.
Membungkus aurat saya, bukan menutup. Memakai baju yang seadanya. Terkadang masih memakai jeans walaupun saya lebih sering menggunakan rok. Khimar yang masih tipis dan tembus pandang, masih sering dililit dan tidak menutupi dada. Dengan sanggul punuk unta yang masih menghiasikepala saya,kaki yang belum tertutup kaos kaki. Dan itu berjalan cukup lama.
Hal itu karena ketidaktahuan juga mungkin belum adanya hidayah dari Allah. Untuk sementara waktu itu saya hanya berhijab seadanya, dengan kualitas ibadah yang juga masih seadanya (bahkan sampai sekarang
Hmmm, Segitu duu ya ceritanya. Lain waktu nanti disambung. Jazakillah.
Wassalamu'alaykum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar